Anak Ajaib itu dari SD Peduli Bangsa - Maluku Utara , Pulau Obi



Sebuah pengalaman berharga akan membuat seseorang menjadi semakin dewasa, memang sesuai dengan pepatah  “Pengalaman adalah guru yang berharga”. Pengalaman yang pernah saya alami tak hanya membuat pribadi saya menjadi lebih dewasa tapi menjadi batu lancatan yang akan menghantarkan aku pada banyak hal . Melihat indahnya bumi pertiwi, bertemu keluarga baru, Hidup dengan kesederhanaan nan minim fasilitas, bertemu dengan orang – orang hebat , berbagi semangat dengan anak SD – SMP – SMA , mancing bersama dengan mereka , membuat kegiatan bersama dengan mereka , mengisi kegiatan di sore hari dengan bergosip dengan para ibu – ibu, dan masih banyak lagi. Bukan di Jakarta, bukan di Yogyakarta, dan bukan di tanah kelahiranku. Pengalaman itu aku dapatkan dari pulau yang luasnya tidak lebih luas dari pulau bali, namun memiliki sejuta kekayaan alam yang tersimpan di sana dan kekayaan alam yang sangat melimpah – ruah, mereka menyebutnya Pulau Obi, Suatu pulau kecil yang terletak di Maluku Utara, Provinsi Halmahera. Di sanalah aku dan teman- temanku menemukan sejuta senyum indah, sejuta pengalaman berharga yang tak akan pernah terlupakan, dan menjadi kisah klasik kami yang akan kami ceritakan kepada anak – cucu kami. 



Saya akui, kalau ada campur tangan semesta alam yang mempertemukan kita ber tiga puluh yang menjadikan kita satu keluarga. Saling bahu membahu, saling bertukar pendapat, saling berbagi keceriaan, saling berbagi kepedihan , saling menghibur, dan membuat hari yang paling berat pun menjadi hari yang menyenagkan. Itu karena kami satu keluarga. Semesta alam memainkan konspirasinya , hingga menjadikan kami satu keluarga, Keluarga KKN – PPM UGM 2014 MLU 01. 

Membaur, memberikan solusi, dan tidak  membuat repot adalah kewajiban bagi kami yang tentunya sudah menjadi nilai yang terpatri dalam hati kami. mungkin sudah keseharian kami, setelah selepas solat magrib kami berkumpul di rumah salah satu orang yang sudah kami anggap sebagai orang tua kami, di rumah Ibu Irma kami memberikan hal terkecil yang kami punya. Mengajarkan anak – anak SD Peduli Bangsa pemahaman bagaimana caranya membaca huruf Hijaiyah, mengajarkan mereka mengaji. Huruf demi huruf kami ajarkan, dan itu memang tidak mudah. Memberi pemahaman kepada anak SD jauh lebih susah dari pada memberikan arahan kepada anak SMP ataupun SMA dan saya percaya guru sd saya adalah orang yang hebat. Tidak sedikit siswa SD Peduli bangsa yang mengikuti kegitanan rutin ini, sebab itu kami membagi sift untuk menjadi tentor utama. Sungguh amat sangat bahagia, ketika mereka dapat membaca Huruf Hijaiyah walau hanya satu kata. Mendengar mereka dapat mengaji adalah kepuasan tiada tara bagi diri saya sendiri.
 

 
Murid SD Peduli Bangsa memang sudah kami anggap sebagai adik sendiri, kami bertemu setiap hari selepas solat magrib. Sebab itu ketika kami ada kegiatan lain seperti sosialisasi Pengolahan Hasil Tangkap Ikan mereka menjadi penonton setia dari awal hingga akhir . bahkan mereka ikut membantu kami mempersiapkan berbagai hal dari persiapan sampai beres – beres perlengkapan. Memang luar biasa, Murid SD Peduli Bangsa. 


Suatu ketika kami mendapat kesempatan mengisi kelas di SD Peduli Bangsa. SD ini tidak begitu besar, tidak begitu lengkap fasilitasnya, bahkan toilet pun tidak ada. Walaupun demikian mereka tetap bangga dengan sekolah ini. Sekolah yang mengajarkan mereka bagaimana caranya menulis, membaca, berhitung , dan bertutur kata. Kami sepakat untuk membuat kelas inspiratif untuk SD – SMP – SMA yang ada di pulau ini. Sekolah inilah yang pertama kami datangi, SD Peduli Bangsa yang penuh dengan sejuta keceriaan dari canda , tawa anak ajaib. 

Ketika kami akan sampai di Sekolah itu dan belum sampai betul di gerbang  , teriakan anak – anak dari kejauhan menghantarkan langkah kami, “kaaaaaak ... diaaan... Kaaaaak.... robii.... Kaaaaak hanii........”, teriak mereka, seolah sudah menanti kehadiran kami di sini. Mendengar teriakan mereka rasanya ingin berlari mengejar mereka dan segera memulai sesi – sesi yang sudah kami persiapkan.  Sesi ini kami sebut dengan “Kelas Ceria”. 



Mengajarkan matematika , fisika , kimia, filosofi kepada mereka ? , Tidak ! . tentu kami sadar betul kemampuan kami, ibu- bapak guru SD Peduli Bangsa  tentu lebih mahir dalam hal itu. Kami hanya mahasiswa biasa, yang ingin memberikan mereka hal yang sederhana, namun memiliki essensi penting. Kami memberi nama “Kelas Ceria”, membuat keceriaan di dalam kelas, dan membuat anak – anak ini terhibur dengan kedatangan kami. hanya itu yang dapat kami berikan kepada mereka saat ini.
Bermain bersama, menggambar bersama, bernyanyi bersama adalah salah satu kegiatan yang kami lakukan di kelas. Di tengah sesi, salah satu teman kami memberikan hal khusus. Mambuat angsa dari selembar kertas yang penuh dengan warna. Origami, orang jepang menyebutnya. Lipatan sederhana yang simetri memberikan hasil yang bagus, setidaknya itulah yang aku pelajari dari membuat origami itu. 


Memang sangat sederhana , memang hanya itu yang bisa kami berikan untuk anak – anak SD Peduli Bangsa saat ini.
Akhir pekan di pulau ini, kami manfaatkan untuk banyak hal. Suatu ketika kami melakukan kebersihan bersama memperindah balai desa, dan kadang kami pergi ke suatu tempat yang belum kami singgahi sekedar untuk menghirup udara pagi yang sejuk. Dan di setiap akhir pekan juga anak – anak SD Peduli Bangsa menjadi teman setia kami, mereka selalu ada untuk kami.
Yah itulah Anak Ajaib SD Peduli Bangsa, Sekolah sederhana dengan Sejuta Keceriaan dan senyuman anak Ajaib. 





Memang, mereka memang anak ajaib, setidaknya gambaran itulah yang saya dapat ketika melihat mereka semua. Kalian tahu parang patimura yang ada di gambar uang seribu dan yang pasti kalian sering melaksanakan tugas kebersihan dari guru anda ketika anda masih SD atau SMP . sebagian anak – anak menganggapnya hal yang membosankan dan tidak tidak menarik untuk dilakukan. Capek, lemas, pegal menjadi alasan utama kita untuk menghindari kegiatan itu. Tapi, tidak dengan anak – anak SD Peduli Bangsa. Memang , mereka memang anak ajaib dari timur. Hari sabtu menjadi hari favorit bagi mereka karena hari itu adalah hari kebersihan. Mereka anak ajaib yang selalu menjaga kebersihan sekolahnya. Mereka anak ajabib, walau pun mereka masih duduk di kelas dua hingga kelas empat mereka menggunakan parang patimura untuk memotong rumput. Anak perempuan pun tidak kalah dengan yang laki – laki, walau bukan parang tapi mereka mambawa pisau dapur untuk mencabut rumput – rumput yang kian tumbuh lebat. Saling gotong royong, mencabut rumput, mengumpulkan sampah, hingga membakarnya. Itulah pemandangan yang kami lihat ketika berknjung ke sekolah ini, SD Peduli Bansa di sabtu pagi. Mereka Anak Ajaib dari Maluku Utara, Indonesia bagian Timur. 

Walau waktu yang kami habiskan dipulai ini hanya dua bulan, tapi sungguh kami ingin menjelajahi semua seluk beluk tempat ini .  Walau hanya dua bulan , tapi sungguh kami ingin melihat lebih banyak lagi keceriaan dari anak – anak SD yang lain , anak – anak SMP yang lain dan anak – anak SMA tentunya. Tempat ini bukan tanah jawa, tempat ini bukan jakarta, tempat ini minim fasilitas, tempat ini tidak ada sinyal kecuali telkomsel , tapi tempat ini memang sangat indah. Enam puluh satu hari di pulau ini berlalu sangat cepat.








Komentar

Postingan Populer