Nge-Galau-ers
Tadinya sih gak mau di post di sini, tapi karena udah nulis panjang - panjang dan percuma kalo cuman dijadiin pajangan :p
----------------------------------------------------------------Jum’at 28 Maret 2014 – Perpus Pusat UGM
Hari
ini bukan tentang aku , tapi ini tentang kamu dan mereka .
Cuaca di Jum’at sore ini memang sedang galau. Lima
menit gerimis, lima menit reda , dan lima menit berikutnya hujan gede, lanjut
ke lima menit berikutnya terang . dan pemandangan seperti itu cuman bisa
dilihat indah ketika gw lagi di perpus pusat lantai lima – tepatnya di depan
jendela yang menghadap ke graha saba permana atau sering di sebut GSP.
Jum’at - yah
jum’at itu udah jadi rutinitas kami untuk melepas rasa kangen dan lelah
diantara kita dan kali ini tempat spesial yang dipilih adalah perpus pusat .
kenapa keren – karena kita ada di bagian paling atas perpustakaan pusat.
Sungguh sangat agung kuasa – Nya , begitu indah dan sangat terkesan ketika
orang baru pertama kali menginjakan kakinya di sini.
Rutinitas kami memang sangat sibuk, namun sengaja kamu
dan mereka meluangkan waktu untuk hari ini – yah hari jum’at di perpus pusat
yang begitu indah .
Begitu bersemangat – itulah yang aku liat apa yang
ada dimatamu dan mata mereka tentang pertemuan ini. Kamu dan mereka membahas
tentang bagaimana kita bisa ke sana , bagaimana kita menginjakan kaki kita di
sana , dan bagaimana kamu dan mereka bisa mencapai cita-cita yang telah kamu,
mereka, dan aku buat.
Entah ini hari sialku , atau ini memang takdirku.
Hari ini begitu keras dan begitu susah untuk dilewati. Bukan karena apa dan
bukan kenapa , tapi hari ini memang badan, kepala , dan hati memang sedang
tidak selaras. Ingin hati ini bersemangat ketika melihat matamu dan mata mereka
, namun badan ini sangatlah lelah dan sangat suah untuk digerakan . hari ini – aku
sakit .
Meski hati dan badan ini begitu tidak sinkron, tapi
tetap saja tekad hati yang telah dibuat mengalahkan segalanya, dan hari ini
sudah kukalahkan rasa sakit walau agak terkesan terpaksa. Namun , meski badan
ini telah mengikuti isi hati untuk melihat matamu dan mata mereka , tetap saja
ada bekas yang terlihat . bekas yang tak tampak pada diri yang biasanya ada.
Hari ini sangat pendiam ketika kulihat wajahmu dan wajah mereka.
Sudah setengah perjalanan perbincangan aku dan
mereka lakukan, namun tak tampak juga rupamu, seperti biasa kau telat dan
jarang hadir karena kesibukanmu yang begitu menyita harimu. Sangat berbeda
sekali dengan diriku dan mereka, namun kau begitu bersemangat untuk ada
diantara aku dan mereka . keberadaanmu di antara aku dan mereka sangat memberi
warna baru , ketika kau mengucapkan satu kata entah kenapa kata itu berubah
menjadi ribuan makna yang berbeda di kepala , telinga, dan hati . mungkin
mereka juga merasakan apa yang aku rasakan tentang itu kepadamu .
Dan – kau hadir ketika kita semua berbicara tentang
arti sebuah kata. Terlihat kau begitu tergesah-gesah menaiki sebuah tangga ,
seperti biasa kau begitu bersemangat untuk menyinari orang yang ada di
sekitarmu . begitulah dirimu dari apa yang kulihat jauh dimatamu.
Di saat kau yang selalu menerangi orang – orang
disekitarmu , aku masih sibuk dengan hati dan badan yang tidak selaras. Hanya
bisa kulihat kau dari jauh , hanya bisa kulihat kau dari balik tubuh yang lemah
ini, dan hanya bisa ku sebut namamu dari hati ini.
Hey kamu, kadang kau ada begitu dekat . kadang juga
kau begitu sangat jauh . dan kadang juga kau tak terlihat . berharap – hanya
itu yang bisa dilakukan, agar kelak kau selalu ada di setiap hela nafasku. Dan
masih saja ku berharap walau mungkin kau tak tau, dan kau semakin jauh.
Satu jam berlalu begitu cepat , hingga suara adzan
magrib menghentikan keakraban aku, kamu dan mereka .
Begitu senang rasanya ketika mereka dan kamu
merencanakan untuk mengadakan makan malam di tempat pertama kali aku melihatmu
. di sebuah tempat makan yang hanya ada kamu dan mereka yang ku ingat .
Lemah – lemah sekali tubuh ini untuk bisa berjalan.
Entah apa yang terjadi nampaknya setelah adzan berkumandang hati dan badan ini
memberontak . memang sangat keras kepala diriku ini . semakin parah sepertinya
rasa berat ini , rasanya sakit dan memang sakit .
Harus mengalah memang dengan apa yang sudah terjadi
. mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk aku , kamu , dan mereka bisa
bertatap muka di tempat itu lagi. Tapi mungkin suatu saat nanti , suatu hari
nanti , kita bisa pergi bersama ke tempat yang sangat jauh , aku, kamu dan
mereka .

Komentar