Perjalanan Sih...
Ini sebuah kisah,
tentang satu tim yang mempunyai satu visi, satu misi yang disatukan dalam
ikatan keluarga. Sebuah ikatan yang tak akan pernah putus, yah tak akan pernah
putus , sebuah ikatan yang menjadi fondasi kuat kisah klasik kita, kisah klasik
kita di rumah saudara kita. di salah satu kepulauan yang dimiliki oleh
Indonesia.
Kalian tau indonesia ?
Kalian tau seberapa
besar indonesia ? mungkin dalam buku sejarah SD dan SMP menjelaskan berapa
banyaknya pulau yang ada di Indonesia dan seberapa Luasnya Lautan yang
dimilikinya. Dan Pertanyaan Selanjutnya, kalau kalian adalah warga negara
indonesia sudah berapa pulau yang pernah kalian injak , kecuali pulau Jawa ?
Bukankah kita satu
darah, satu bahasa, satu bangsa, bangsa Indonesia . Lantas saudara macam apa
yang tak pernah berkunjung ke saudaranya ?
Kita semua sepakat,
bahwa tanah ini bukan tanah jawa, tapi disini jauh lebih subur dari tanah jawa,
kita juga sepakat bahwa laut di sini kaya akan ikan, dan kita juga sepakat
masyarakat disini sangat ramah kepada kami.
Tangis, canda, tawa
semua pernah kita lalui disini. Sepi sendiri, gemuruh keramaian, panas terik ,
udara sejuk, sungai mengalir, gunung menghijau, hujan menetes, sapi dijalan,
kambing berteman dengan anak – anak, lapangan luas menghampar di halaman, dan
semuanya serba ada di sini.
Ramadhan, begitu
bersyukur kami dapat melaksanakan tugas ini yang bersisipan dengan bulan suci,
bulan ramadhan. Tak ada perbedaan, tak ada halangan, dan tak ada semangat yang
luntur. Justru dengan adanya bulan ini, kita dapat menambah iman kita agar bisa
lebih bertaqwa kepada – Nya.
Inilah kami, kisah
kami. Team KKN – PPM LPPM MLU01.
| KKN PPM UGM 2014 |
Aku bersyukur bisa
masuk disalah satu Universitas Kerakyatan , yang selalu menjungjung tinggi azas
pengabdian kepada masyarakat. Bagaimana tidak, salah satu SKS mewajibkan
mahasiswanya menjalani hidup dan berbaur kepada masyarakat, menjadi sosok yang
mempu menjadi problem solving, mampu menjadi sosok yang menginspirasi anak –
anak, dan yang tidak pernah menyusahkan ketika ada di lingkungan baru. Dan
sekali lagi aku bersyukur dapat menikmati jenjang perguruan tinggi di
Universitas Ini, Universitas Gadjah Mada.
Sungguh bersyukur dapat
menemukan manusia super seperti mereka, penuh semangat, cerdas, militan,
cekatan, banyak ide – ide cemerlang, mampu menopang beban yang sangat berat dan
itulah mereka. Sunggu sangat indah hari – hari bersama mereka, hari – hari
dipulau itu dan bersama mereka dan kamu.
| Hutan Biologi - Kampus UGM |
Ini nyatata, ketika aku
kesulitan menginat nama orang yang ada di sekelilingku, tapi ketika aku bertemu
dengan mereka, dengan jelas aku mengingat nama – nama mereka. “bagus, iis,
hendri, lela, nuzula, mbak feb, Ummi, Rara, Awan, Fatta, Pak Herry, Fikri,
Wardah, Sidik, Mas Riskam, Dian, Dila, Mbak Shinta, Feby, Ucup, Bams, Mas
fadhil, Mas Fadjar, Kori, Zaki, Nando, Desca, Meia”.
Disini, di hutan
biologi, awal perjalanan kami dimulai. Satu visi, semangat mengabdi, dan rasa
kekeluargaan adalah modal yang wajib kami bawa ketika akan berangkat. Sungguh
bahagia, ketika kami akan berangkat menuju tempat yang tak pernah kita
bayangkan , Dosen Pembingbing kam, Pak Herry, bisa datang untuk melepas kepergian
kami, dan tentu saja mendoakan kami semua.
Wajah yang penuh
semangat, aura positif mengawali hari yang akan terasa lebih lama dari
biasanya. dan ketika mentari ada di atas kami, seolah dia memberikan insyarat,
bahwa kita harus segera memulai perjalanan ini.
Kebahagiaan apalagi
yang kami dapatkan ketika akan memulai perjalanan ini, yah ketika angkatan
sebelumnya dapat juga datang untuk melepas kepergian kami, walau mereka
terlihat asing dan tidak semuanya mengenal kami, tapi aku yakin, kalau mereka adalah
orang – orang besar yang terlahir dari perjalanan yang sama yang akan kita
mulai ini,dan suatu hari nanti, kita akan menjadi orang besar dari perjalanan
ini.
| Dalam bis - a |
Aku pernah melakukan
suatu perjalanan jauh menggunakan alat transportasi publik yang mempunyai
kapasitas penumpang hingga lima puluh orang, - bis, tapi sungguh ini adalah
pengalaman pertama yang tak akan pernah aku lupakan, ketika bersama dengan
mereka perjalanan yang sangat jauh, yang sanat lama, dan tak pernah
terbayangkan menjadi hal yang sangat mengasikan, dan itu menjadi sebuah kisah
klasik yang takan pernah lelah di ceritakan.
Bernyanyi sepanjang
perjalanan, berbagi makanan , melakukan hal – hal yang tak akan bisa dilakukan
tanpa adanya mereka semua adalah hal kami lakukan selama perjalanan. Setengah
perjalanan ini, berlalu begitu cepat. Entah kemana kami pergi, entah sejauh
mana kami pergi, entah kapan akan berhenti dan yang pasti , bersama kalian.
| Me dan Dian |
Kalian Percaya takdir ?
Aku percaya, mungkin kita sudah ditakdirkan melakukan perjalanan ini, mungkin
semesta alam sudah melakukan konspirasi yang paling hebat yang pernah ada dan
menyatukan kita dalam satu tim, mungkin Dia sudah berkehendak, dan mungkin
itulah alasan kita dipertemukan di sini, diperjalanan ini. Dan aku percaya ,
akan adanya keterlibatan Tuhan dalam konspirasi ini.
Entah berapa lama waktu
yang kita habiskan ketika menuju ke bandara juanda ini, entah berapa energi
yang telah kami habiskan di dalam sini, entah itu, kami pun tak ada ide. Tapi
itu adalah perjalanan yang sangat menyenangkan ketika berada bersama kalian.
Yah perjalanan ini , akan jadi kisah klasik unutk kita.
| Desca in the bird |
Ini gila, tapi ini
nyata, ketika sebuah teknologi yang semua orang pernah memakainya, dan ketika
semuanya biasa melihatnya, dan aku adalah orang yang baru pertama kali
melihatnya. Tatapan kagum, tatapan tercengang, dan hanya bisa kagum dengan hal
– hal yang baru pertama kali dilihat. Yah inilah pesawat, dan itu hebat.
Terbang bersama mahluk
macam ini adalah pengalaman yang tak akan pernah terlupakan, mungkin karena ini
adalah pengalaman pertama dan aku lakukan bersama kalian. Ribuan kilometer dari
permukaan laut, ribuan kilometer jauhnya pulau tujuan hanya ditempuh dengan
beberapa menit saja.
BJ. Habibie pernah
bilang, turbolensi adalah hal yang biasa di pesawat, bahkan kita bisa tenang
ketika turbolensi itu datang, tapi bagi aku itu adalah hal yang mengerikan,
entah itu fobia, atau telah teracuni oleh berita- berita yang ada di televisi
nasional tentang maraknya kecelakaan transportasi di negri ini. Yang hanya bisa
aku lakukan hanyalah berdo’a dan berdoa.
Lucu , entah mengapa
mereka semua menikmati perjalanan dengan burung besi ini, entah mereka merasa
nyaman dengan keadaan ini, entah mereka tidak takut , tapi yang pasti mereka
bahagia ketika bisa terbang bersama – sama. Jika ini adalah perajalanan
terakhir kita, maka ini adalah perjalanan terakhir bersama kita, tapi jika ini
adalah awal dari perjalanan hebat kita, maka kuatkanlah kami, itu do’a yang
selalu aku ucap ketika ada di atas burung besi ini.
Lelah, iya memang
lelah. Tapi, bagi kami, ketika lelah itu datang, ketika semangat itu mulai
turun, yang kita lakukan adalah diam sejenak, untuk me-restart-nya kembali,
mengembalikan semangat yang seolah pudar oleh rasa lelah dan letih itu.
Ketika kita harus singgah di sebuah pulau yang
jaraknya tak begitu jauh dari jawa, jaraknya sangat dekat ketika kita
melihatnya dari peta. Yah kita singgah di salah bandara sultan hasanudin.
Bagi kami, bukan suatu halangan dan rintangan ketika
kita menuju suatu tempat dan begitu banyak tempat persinggahan. Kami anggap itu
adalah salah satu karunia dari perjalanan ini. Ketika kita singgah di suatu
tempat, kita dapat menemukan tempat baru yang belum pernah kita lihat, ketika
kita berhenti walau hanya mili detik,
dan kita sebut itu adalah tempat baru.
Disini, diperjalanan
ini, semuanya saling bahu membahu, membentuk satu kesatuan padu. Walau mereka
tercipta dari tulang rusuk pria, tapi disini mereka mempunyai tanggung jawab
yang sama . tidak ada keistimewaan diantara kita, karena kita semua adalah
orang-orang yang istimewa.
Perjalanan ini sungguh
amat jauh, singgah di satu tempat mungkin sudah biasa, hanya untuk melepaskan
lelah, dan meluruskan kaki yang tegang. Dan disini, kita singgah, di kota
ternate. Mungkin banyak buku sejarah, atau buku islam ketika SD, SMP banyak
menuliskan tentang kejayaan kesultanan ternate – tidore. Beruntung sekali kami
dapat singgah di kota ini, bisa melihat dengan mata kepala kami, sisa kejayaan
kesultanan islam yang ketika dulu hanya bisa kami baca dari buku dan buku.
Lagi, dan lagi, semesta
alam melakukan permainannya, mereka melakukan konspirasi yang membuat kita, di
kota ini dapat terbantu dengan kehadiran saudara kita, yah di kota ini, ada
keluarga dari salah satu anggota kami. Dan disinilah semesta alam kembali
menunjukan konspirasinya.
Perlengkapan,
perbekalan adalah hal yang wajib yang harus dipersiapkan jauh-jauh hari sebelum
melakukan suatu perjalanan. Persiapan yang matang akan membuat segalanya jadi
mudah, dan begitu juga kita. obat- obatan, pakaian, bakal, makanan, dan segala
peralatan yang dibutuhkan di pulau itu kita persiapkan secara matang. Tidak ada
hal yang tertinggal adalah harapan kami, dan tidak ada kesulitan adalah harapan
setiap individu. Begitu juga aku, hanya membawa satu buah koper dan satu buah
tas ransel. Semua yang aku bawa adalah hal yang menjadi kebutuhan pokok yang
tidak bisa ditemukan di pulau itu, waktu itu.
Di sini, di ternate,
tempat yang asing bagi kami. Entah jalannya, entah transportasinya, entah
rumahnya semuanya begitu asing bagi kami. Dan di sini bukanlah pulau jawa, yang
segalanya ada. Laut sangat indah, gunung dan pegunungan menjulang tinggi,
pepohoan rindang, tidak ada kemacetan , pasar rakyat masih banyak, dan Hanya ada
beberapa Mall, ternate asing bagi kami yang selalu menginjakan kaki di pulau
jawa.
Yah kita singgah
beberapa saaat di tempat ini.
Bulan ini begitu suci,
bulan ramadhan, dan aku bahagia dapat melaksanakan ibadah di bulan suci ini
dengan orang – orang hebat seperti kalian. Sejenak kita menunda semua tugas dan
kewajiban kita, kita mensucikan diri dari segala hal yang tidak baik. Mendekatkan
diri kepada-Nya, memohon petunjuk-Nya, dan Berdo’a kepada-Nya agar perjalanan
ini , tugas ini dapat dilaksakan dengan benar oleh kami.
Sungguh khusyuk ketika
kami memohon pertolongan-Nya.
Melihat sekeliling
pulau ini, aku begitu terkesima. Alam dan manusia begitu dekat. Ketika kita
banyak menggunakan mobil , disini mereka menggunakan kapal, ketika kita banyak
malakukan transaksi menggunakan tebit card atau transfer, disini mereka masih
melakukan hubungan antara pembeli dan penjual dengan baik.
Di salah satu pasar
tumpah, yah tumpah karena ini adalah bulan ramadhan, ada begitu banyak pedagang
dan banyak pembeli ataupun pejalan kaki yang melakukan perjalanan hanya untuk
menunggu waktu berbuka. Tapi kami hanya melihat dari kejauhan.
Salah satu tempat yang
menjadi fokus perhatianku adalah pasar tumpah ini. Entah bahasa apa yang mereka
punya, yah mereka memakai bahasa daerah dengan begitu memaknai, hanya bahasa
indonesia yang bisa menjembatani kami. Banyak pedangan sayur, menawarkan barang
dagangannya, rica mereka menyebutnya banyak di jajakan di sini, dan kita biasa
menyebutnya cabai, entah karena barang itu suplai dari pulau jawa, harga dari
sayuran itu begitu mahal, ketika harga sayuran di jawa begitu murah, bahkan
dijadikan makanan kambing .
Malam tiba dan kami pun
bersiap untuk melanjutkan separuh perjalanan ke suatu tempat menggunakan sebuah
kapal kayu. Sederhana , tidak terlalu besar, dan tidak banyak fasilitas yang
ada didalamnya. kami dan semua perlengkapan, perbekalan kami masuk ke dalam
kapal ini.
Dingin, yah malam itu
memang dingin. Suhu udara di sini mungkin berbeda dengan rumah kami, tempat
lahir kami di pulau jawa, tapi suhu melengkapi malam perjalanan kami. Menemani
cahaya bulan, menemani ribuan bintang, dan angun laut yang begitu kencang.
Pemandangan ini, suhu ini, angin ini, perasaan ini baru aku rasakan pertama
kali, di tempat ini.
Ketika suara sirine
kapal melengking, ketika jangkar kapal ini diangkat, dan semua penumpang
semuanya berdo’a disaat itulah perjalanan kami dimulai kembali, dilautan
ternate, menuju suatu pulau yang sangat terkenal, yah pulau Bacan. Pulau yang
banyak tersimpan harta karun, pulau yang kaya akan hasil alamnya, pulau yang
kaya akan batu mulianya.
Getaran kapal, deburan
ombak, gelapnya malam, dinginnya udara membuat suasana malam itu sungguh sangat
sayang bila hanya berada di ranjang penumpang, yah walaupun tak banyak juga
yang masih terjaga , malam itu. Kuputuskan untuk pergi ke luar kapal dan
kunikmati setiap jengkal perjalanan malam ini.
Hanya ada cahaya
rembulan, bintang- bintang dan dari kapal itu sendiri, sunggu indah saat itu,
belum pernah aku merasakan sensasi yang begitu tenang dan begitu hikmat.
Mungkin suasana seperti ini tidak akan aku dapatkan dari tanah kelahiranku.
Hanya ada di sini, diperjalanan ini.
Lamanya perjalanan ini
hanya enam jam, namun lamanya waktu dari jam tangan tentu berbeda ketika kita
sedang menikmati malam itu, dan pasti berbeda ketika perjalanan ini hanya kita
lakukan dengan hanya tidur . bagiku malam ini adalah malam terpanjang yang
pernah aku lewati.
Kapal berlabuh dipulau
bacan, pulau yang penuh dengan sejuta harta karun , dan kami di sini diatas
pulau ini. Tapi ini bukan akhir dari perjalanan kami, ini adalah persinggahan
sementara.
Perjalanan ini begitu
jauh, darat, udara, laut kami jelajai. Ketika kami harus pergi dari hutan
biologi menuju bandara juanda dan harus melaksanakan ibadah puasa, dan juanda
pun bukan lah akhir perjalanan kami, ini adalah batu loncatan untuk
meninggalkan pulau jawa , dan ketika pesawat sriwijaya menghantarkan kami ke
kota makasar, itu pun bukan akhir dari tujuan kami, hanyalah sebuah tempat untuk
melepaskan lelah kami di pesawat. hanya satu jam kami singgah di bandara ini,
dan dua setengah jam kami lanjutkan lagi perjalanan ini menuju bandara di kota
ternate, itu pun bukan puncak dari perjalanan kami, hanya separoh perjalanan
kami. yah kami lelah, kami lemas, dan kami letih.... tapi semangat ini
menghapuskan semua rasa itu.
Di sini, dipulau bacan
juga bukan akhir dari perjalanan kami, tapi ini begitu dekat dengan tempat
tujuan kami. Bacan kami singgahu untuk mendapatkan restu dari pemerintah dan
bersilaturahmi dengan pemerintah setempat.
Dan kendaraan itu,
menjadi kendaraan yang menganggut kami dan barang – barang kami.
Di pulau bacan ini,
banyak hal yang akan terjadi, banyak keindahan yang kami lihat. Yah di sini
dipulau bacan.
Melepas lelah, hal yang
pertama yang kami lakukan sesampainya dipulau ini. Hanya memejamkan mata dan
semuanya akan hilang dari tubuh ini.
Ketika semuanya sudah
pulih, kita mulai tertawa lagi, kita mulai tertawa bersama lagi, membuat seolah
perjalanan ini adalah hal yang ringan dan tak ada beban sedikitpun, yah itu
karena ada kalian, ada kalian di sisiku. Selalu melakukan hal yang konyol,
melakukan hal yang kadang tak bisa dimengerti , dan aku tau, itu untuk kita
semua, untuk bisa mambuat kita semua bisa tertawa, dan tawa itu menghindarkan
kita dari lelah dan letih.
| Senyuman manis, Ummi Kalsum Ari, bacan 2014 |
Sungguh kebahagiaan apa
yang dapat kita dapatkan dari perjalanan ini, selain dapat melihat kalian
tersenyum, melihat mereka tersenyum seakan melihat sosok yang memiliki dua
kepribadian . ketika mereka berada dilingkungan yang menuntut
ke-profesional-an, dan ketika mereka membaur bersama kita, dan itulah kadang
yang mereka lakukan. Dualisme kepribadian membuat mereka mudah menyatu, tak ada
tuntutan apapun dari perjalanan ini, hanya menjadi diri sendirilah yang
dibutuhkan dalam tugas ini.
Entah berapa lamanya
kita mengudara, entah berapa lamanya jarak jawa maluku, tapi ketika bersama
kalian, begitu cepat rasanya kita melaluinya, dan ketika sudah sampai di Bacan
salah satu kepulauan di Maluku Utara, kita semua tersenyum. Kita saling
memandang, kita seolah tak percaya dengan apa yang kita lakukan bersama, dan
kita bisa , kita bisa sampai di tempat ini, tempat yang tak sedikitpun
membayangkannya, dan sekarang kita ada di sini, di Bacan, satu langkah lagi menuju
tempat yang akan kita tuju, Pulau Obi.
| Orang Penting Bacan |
Bertemu dengan orang –
orang baru, yah kami bertemu dengan salah satu orang terpenting di pulau ini.
Sekedar membagi saran, dan memberikan nasehat – nasehat kepada kami agar ketika
kami bertugas nanti dapat melaksanakannya dengan semaksimal mungkin dan tidak
ada halangan ataupun gangguan.
Kami pun tentu meminta
banyak hal ketika kami merasa memerlukan untuk meminta bantuan. Transportasi,
akomodasi dan birokasi yang tidak kami mengerti menjadi permintaan yang kami
lontarkan kepada sososk yang menjadi panutan di pulau ini. Dan kami bersyukur
dapat bertemu dengan beliau di tempat ini dipulau bacan .
Lagi – lagi , perasaan
yang sama ketika aku sampai di Tertane, rasa asing datang. Takjub dengan pesona
alamnya, keindahan dari pegunungannya, danaunya, lautnya, pantainya,
pepohonannya , sungguh sangat indah tempat ini. Dan aku merasa asing dengan
keindahan tempat ini yang entah bagaimana mendeskripsikannya.
Bahkan ditempat ini,
ada tempat seperti ini, yah.... Keraton
Sultan Bacan. Sejarah islam yang hanya bisa dibaca lewat buku dan sekarang bisa
kami lihat dengan mata kepala kami . sisa – sia kejayaan kesultanan islam masih
tersisa di sini.
Kalian tahu apa yang
membedakan anak – anak di sini dan anak- anak dijawa ? walaupun perbedaan
fasilitas dari anak – anak dijawa, tapi anak – anak ini sungguh cerdas dan
begitu aktif. Ketika pagi hari mereka dengan semangat bangun lebih awal dari
kami, kalian tahu jam 7 di pulau ini sama halnya dengan suasana jam 5 di pulau
jawa . Masih gelap dan angin malam belum menghilang, bahkan embun pun masih
banyak di dedaunan dipinggir jalan. Tapi mereka adalah sosok yang sangat cerdas
yang mempunyai semangat yang tinggi.
Kalian tahu disini
masih jarang orang memiliki televisi , di sini hanya beberapa rumah saja yang
memiliki televisi, bukan mereka tidak mampu untuk membelinya, tapi di pulau
anak – anak menemukan hal yang lebih besar dari pada hanya menonton televisi.
Berlarian mengejar teman lebih mewah dari pada bermain tab dan duduk nyaman di
balik selimut, bermain bola dengan teman – teman sebaya membuat mereka lebih
bahagia dari bermain hp ataupun online. Yah disini memang masih belum lengkap
akan fasilitas seperti sinyal hp ataupun sinyal televisi. Tapi bagi mereka ,
bahagia itu sederhana.
Banyak hal baru yang
kami pelajari di sini, karena kami disini saling berbagi dan kami membagi hal –
hal baru tersebut. Seperti melakukan pekerjaan yang kadang kaum adam
menghindarinya, atau hanya membiarkannya begitu saja. Yah belajar membuat kain
kusut ini menjadi rapih dan wangi.
| Kartu dan Belajar |
Menertawakan diri
sendiri ketika kita baru tahu kalau itu hal mudah dan kita baru saja bisa
melakukannya , yah sudah biasa. Belajar hal – hal yang belum kita pelajari dan
tidak ada mata kuliahnya. Hanya di sini, di KKN ini kami dapat mempelajari hal
baru ini.
Bermain kartu mungkin
jika dipandang dari sisi permainan mungkin hanya permainan biasa, tapi di sini,
dari permainan kartu ini kita dapat menemukan hal lebih dari sekedar bermain
kartu. Ketika kita bermain kartu, kita melakukan kontak langsung dengan partner
atau rival kita dipermainan kartu. Dan kontak itu membuat kita mengerti diri kita,
mengerti tentang rival kita dan kita bisa saling mengerti satu sama lain, yah
kita bisa disatukan melalui permainan
ini. Dan hal baru itu masih terus akan datang.
Berbuka, Moment yang sangat ditunggu – tunggu setiap insan
yang berpuasa, begitu juga dengan kami. tapi moment ini lebih dari sekedar
moment membatalkan kita dari lapar dan dahaga. Berbuka puasa adalah hal yang
membuat kita jadi lebih mengakrabkan diri dengan yang lain. Saling berbagi
makanan, saling membagi minuman dan sekedar menuangkan air kedalam gelas teman
adalah hal sederhana, tapi itu akan terasa lebih bermakna ketika orang – orang
ini yang melakukannya.
Memang sangat singkat
kami singgah di pulau yang seperti surga ini, tapi kita harus melanjutkan
perjalanan lagi, perjalanan ke tujuan akhir kita , pulau obi, pulau yang belum
kami bayangkan dan kita akan ke sana.
Salah satu dermaga di
bacan ini menjadi pintu masuk perjalanan kami menuju pulau ini, kecil memang,
tapi dari sinilah perekonomian bacan dimulai. Ketika stok barang dirikim dari
pulau sebrang, dan mereka semua menyupainya ke toko – toko atau warung sekitar.
Perjalanan kita
lanjutkan lagi menggunakan kapal, tapi ini kapal baru yang belum kami naiki,
sungguh berbeda dengan kapal yang mengantarkan kami ke bacan, kapal yang menuju
pulau obi ini terbuat dari besi. Dan semoga ketika ombak datang menerjang,
kapal ini tetap dalam posisinya.
| Lelah dan kasur |
Berbeda halnhya ketika
perjalanan menuju pulau bacan, perjalanan ke pulau obi kami lakukan ketika
masih pagi, dan ini juga menjadi pengalaman pertama bagi kami. memang udara di
pagi hari berbeda dengan udara dimalam hari, itu karena perjalan kami ditemani oleh
sinar matahari yang memberikan kehangatan bagi semua mahluk di muka bumi.
Burung camar, ikan terbang, kura – kura, ikan hiu menjadi teman perjalanan
kami. yah selangkah lagi, kami akan sampai di tempat tujuan kami, di pualu obi.
| Madapolo |
Rumah di pinggiran
pantai , berjajar saling sambung menyambung, membentuk pemukiman yang berada di
atas permukaan air laut, yah ini adalah pemandangan yang kami dapatkan di
daerah madapolo, selangkah semakin dekat dengan Obi, dan ini memang sudah di
obi, tapi ini bukanlah tempat yang kita tuju.
Banyak anak kecil yang
seperti ikan, badan mereka kecil, tapi mereka lincah ketika berada di air. Seakan
air adalah tempat tinggalnya, dan mereka bermain , berenang di laut, tanpa
orang tua mereka, tanpa ada yang mengawasi, yah hanya mereka dan teman mereka
saja .
Kadang mereka mencari
botol – botol , yang dilemparkan oleh penumpang kapal obi permai. Sungguh sederhana,
tapi mereka bahagia dengan keseharian mereka.
| Pesisir Madapolo |
Air di sini jernih,
dari atas kapal kita bisa melihat dasar pinggir pantai yang kira – kira dalamnya
hanya tiga meter, yah beda seperti pantai – pantai yang ada di jakarta yang
penuh dengan sampah, dan kotoran, limbah. Di sini, begitu indah. Sampan di sana
sini, anak – anak bermain di lautan , dengan sampannya, rumah kayu yang
tersusun rapih di atas permukaan air laut, para penjual dagangan di pinggir
dermaga, yah mereka semua di sini, di madapolo.
Memang lelah, perjalanan
ini menjadi catatan tersendiri, khususnya aku yang terlahir di pulau jawa. Menyusuri
pulau – pulau Indonesia, menyebrangi lautan indonesia, melihat pemandangan dari
atas permukaan awan, dan ini tak akan terlupakan, sampai kita mati.
Memang lelah, kaki kita
seakan tak kuat menahan beban tubuh kita, kelopak mata ini sangat berat untuk tetap
melihat, pundak ini sungguh sangat lelah menahan beban tas ransel yang ada di
pundak kami, yah memang kami sangat lelah.
Perjalanan dari hutan
biologi, hingga sampai di madapolo memang melelahkan, tapi bersama mereka, bersama
mereka melihat semua yang ada di sini, merasakan hembusan angin yang ada di
sini , dan dengan mata kepala kita sendiri, rasa lelah itu hilang begitu saja,
seolah sirna oleh hembusan angin – angin laut yang menghembus kami ketika ada
di kapal.
| Dermaga Jikotamo, Pulau Obi |
dan ketika kami sampai, di sinilah kita memulai semuanya dari awal lagi.
Selamat datang Obi,
Selamat datang Kampung Buton, Selamat datang Desa Laiwuih, Selamat datang Desa
Jikotamo.

Komentar