Sebuah Rumah Baru


Buton, orang sini sering memanggil tempat ini dengan sebutan itu. Sebuah kampung yang menjadi tempat tinggal kita ber sepuluh. Mungkin tuhan sudah mentakdirkan kita bersepuluh untuk tinggal di sini, mungkin juga ini adalah ketidak sengajaan yang akan menjadi kisah indah, dan mungkin , mungkin kita tidak tahu.

Sederhana dan Senyuman Mewah

Memang,  desa ini, walaupun tampak tak begitu mewah, tak begitu padat penduduknya dan tidak selengkap fasilitas desa – desa terpencil yang ada di pulau jawa , tapi dari senyuman penduduknya , gw yakin kalau mereka begitu bahagia dengan kesederhanaannya.

Di sini, burung – burung selalu berceramah setiap pagi lebih lantang dari burung – burung yang ada di jawa, dan di sini gw bisa melihat burung gereja yang sering gw lihat di tanah kelahiran gw tapi tampak begitu indah, warnanya merah, kuning, dan hijau. Mereka menyebut dengan sebutan “burung nuri”. Tak hanya burung, di tempat ini, di desa ini, sapi – kambing dan hewan ternak begitu berani menjelajahi kampung demi kampung. Tak ada rasa malu, yang hanya mereka pikirkan bagaimana cara mereka mendapatkan makanan. Kambing dan sapi , mereka kadang – kadang sering saling kejar mengejar makanan, dan berbagi rerumputan di suatu tempat yang sama. Yah mereka akur di sini.
Di desa ini sungguh sangat unik, asal – usul masyarakat di sini berasal dari satu suku yang sama, suku buton, sesuai dengan nama desa ini. Mereka pindah dari tempat asal mereka dan menetap di sini untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Daerah asal mereka, gersang, dan susah untuk berkebun, dan sebab itulah mereka berkelana mencari tempat baru. Dan kebanyakan dari masyarakat desa ini adalah suku asli atau keturunan asli dari suku buton.  

Desa ini juga menjadi desa pertama yang di dirikan, memang kalau terlihat di peta, kampung buton adalah desa yang kecil, tapi ini adalah desa yang menjadi perintis dari desa – desa yang lain. Namun, malaupun desa ini adalah desa pertama, tidak bisa dibilang desa ini paling maju.

Masyarakat desa buton memang hebat, mereka rata – rata bermata pencaharian sebagai berkebun. Kebanyakan dari mereka banyak yang berkebun cengkeh, pala. Memang di sini itu adalah rempah – rampah yang mahal, tapi di sana , rempah – rempah seperti itu ada banyak. Mereka hebat, kebun yang jauhnya berpuluh – puluh kilometer tetap mereka susuri. Dan ketika panen tiba, mereka akan bersyukur, karena nikmat tuhan tidak pernah mereka sia – siakan.

Perkebunan mereka ada di hutan, dan kalian tahu, di sini tidak membutuhkan akta untuk mengklaim sebuah tanah nan subur nan luas. Mereka hanya membutuhkan semangat dan kerja keras untuk mendapatkan sebuah tanah nan subur. Pergi kehutan, tebang pohon, rapikan ranting – ranting, dan itu adalah tanah kalian. Tidak ada sengketa diantara mereka, karena ini adalah tanah tuhan, ini adalah tanah yang bebas di olah oleh siapapun, asalkan mereka bisa.

 Ada sebuah masjid kecil yang menjadi tempat ibadah semua penduduk kampung buton, Masjid Nurul Iman. Masjid ini mempunyai banyak sejarah, masjid ini menjadi saksi dari pecahnya perang saudara ketika kerusuhan ambon. Teras yang terbuat dari plesteran semen, dan banyak sajadah di barisan saf pertama untuk para jamaah. Walaupun masjid ini tidak terlalu besar, tapi terasa masjid ini selalu luas. Hanya ketika solat ied saja masjid ini begitu sempit, bahkan ketika solat jum’at masjid ini terlihat luas.

Anak – anak kecil di kampung ini sungguh cerdas, walau terkadang mereka “menyebalkan”. Setiap pagi , dikampung ini anak – anak pergi ke sekolah dengan penuh semangat. Menembus pekat kabut pagi, melawan dinginnya mandi pagi, mengacuhkan nyamannya udara pagi.  Anak  - anak di sini , begitu bahagia, dengan segala kesederhanaan yang ada, tanpa televisi, tanpa gadjet, tanpa kemewahan fasilitas yang ada di kota. Hanya dengan menggelindingkan ban bekas saja mereka dapat tertawa bahagia, hanya dengan sebuah bambu yang dibunyikan saja mereka tampak kegirangan.

Inilah Masa Depan Kita


Dan dikampung ini, kami bersepuluh menuliskan sebuah cerita yang akan menjadi kisah klasik, yang kelak kita ceritakan kepada anak cucu kita.

Bahwa di kampung ini, ada banyak orang – orang baik.
Bahwa di kampung ini, kita semua tertawa di sini.
Bahwa di kampung ini, kita kadang berselisih hanya karena hal kecil.
Bahwa di kampung ini, kita terkadang seperti seorang “artis” dihadapan anak kecil
Bahwa di kampung ini, ada mama – papa piara yang selalu menanyakan “sudah makan
belum”  
Bahwa di kampung ini, selalu ada saja yang memanggil kami dari kejauhan dengan panggilan 
lugu .. “kakaaaak”
Bahwa di kampung ini, selalu ada dabu – dabu yang menjadi teman setia lauk kami.
Bahwa di kampung ini, kadang kita bisa melihat bintang jauh lebih terang dari biasanya.
Bahwa di kampung ini, yah di kampung ini... kita semua hidup bersama.
 




Komentar

dek siti mengatakan…
wihihihi... kamu akan kembali bersama anak istri... tapi bukannya itu terlalu lama? hahahaha

Postingan Populer