#MEmoryeah2014 - Relawan Bencana
#MEmoryeah2014
***Relawan Bencana***
Dukaku,
Indonesia banyak mengalmi cobaan di akhir tahun 2014 ini. jum’at 5 Desember
2014 tepatnya di desa jemblung , karang kobar , banjarnegara , jawa tengah
telah terjadi bencana alam yang merenggut ratusan nyawa. Banyak orang yang
mencari kambing hitam atas kejadian ini, tapi bagi gw pribadi ini bukan salah
siapa – siapa, ini adalah kehendak Tuhan YME. Ini adalah cobaan sekaligus
teguran kepada kita untuk selalu beriman dan bertaqw kepada Nya.
Saat bencana menimpa
saudara gw di banjar, yang gw lakuin cukup jadi diri gw sendiri. Kebetulan waktu
itu gw diajak oleh salah satu komunitas politikus sosialis di kampus (sebut saja Future Leaders Party) untuk
jadi relawan ngebantu di banjar. gw pun mengajak temen gw untuk bisa ikut berpartisipasi
menjadi manusia seutuhnya dengan cara membantu sesama kita di sana. Banyak sih
yang diajak, tapi yang mau dan bisa ikut cuman satu, yah that’s okey lah (fauzi namanya)
. gw tetep jadi diri gw membantu saudara gw di banjar dan mengajak temen gw
buat ikut serta berpartisipasi di sana.
So.... ini adalah
pengalaman pertama gw menjadi relawan bencana alam. Tahun ini memang sungguh
luar biasa banget bagi gw. Walau yang gw bisa bantu hanya ini, tapi gw
konsisten dengan nilai yang gw bawa tentang menolong sesama.
***perjalanan***
Gw berangkat bersama
anak – anak yang lain pas hari sabtu. Nah rombongan ini ikut ke relawan ACT (Aksi Cepat Tanggap) , kalo dari kampus
kita cuman ada 6 orang, dan ada tambahan 3 orang lagi dari ACT. Berasa jadi
orang cupu , ya memang cupu - karena ini
pengalaman pertama jadi relawan, beda halnya dengan temen gw yang ikut bareng .
Misalnya, mas Abie – dia sering jadi relawan ACT , gara – gara dulu pas tinggal
di jakarta dia ikut bantu korban banjir. Terus ada Ahmed, dia juga pernah jadi
relawan di tangerang dulu pas banjir, tapi dia ikut relawan PKPU, kemudian
jarot juga pernah ikut jadi relawan pas dulu ada bencana Merapi di Jogja. Dan ini
gw dan temen gw, dua orang cupu yang ingin jadi manusia sesunggunya dengan menjadi
relawan di Banjarnegara.
Perjalanan ke TKP gak
manusiawi banget bro, kita di dalam udah kaya sekumpulan sapi yang diangkut
make truk. Penuh, sesek, dan gak bisa tidur dengan cara manusia pada umumnya. Kaki
di tekut, badan gak bisa lendotan di
jok, dan yang paling sadis adalah bahu kita saling bergesekan satu sama lain. Untung
mobilnya ada Acnya, jadi kita gak kelagepan karena kepanasan di dalem mobil.
Di jalan , hujaan brow,
ini ibarat kita lagi ke tempat horor yang ada di tipi – tipi, kalau misal
kalian ada tipi:v, mungkin hujan di perjalanan ini mengingatkan masa lalu
yang gak akan pernah usai :v .
Srot
– srot – srot – suara pembersih kaca depan mobil. Saking
deresnya itu hujan jadi harus di kasih srot – srot sama pembersih kaca.
Dalam perjalanan ini gw
sadar, kalau misalkan hujan ini rata dan gede banget. Indonesia saat ini lagi
musim hujan, deresnya intensitas hujan segede apapun ya dianggap wajar , karena
ini lagi musim hujan. Gak ada masalah sih kalo misalkan hujan ini gede atau
deres. Turunnya hujan itu berkah, air yang turun dari langit memberi kehidupan
baru untuk semua mahluk, bukan cuman manusia yang setiap hari kerjanya mengeluh
dan meminta. Yang jadi pokok permasalahan di sini adalah ketika air yang
banyaknya itu jadi musibah bagi manusia karena tangannya sendiri. Saluran irigasi
yang mampet di selokan jadi sebab terjadinya banjir, air yang menggenang
sehabis hujan gede yang gak dibersiin juga bisa jadi sebab penyebaran penyakit
malaria atau demam berdarah. Yah itulah, kita harus banyak merenung di akhir
tahun 2014 ini. gw kelamaan merenung di dalam mobil (padahal tidur dengan
posisi badan , kepala tegak) tiba – tiba sampe lah di Posko ACT Banjarnegara.
***Aktivitas***
Aktivitas di sini gak
kaya yang kalian pada bayangin, pasti banyak yang berfikir kalo menjadi seorang
relawan itu pergi ke TKP dan mencari korban, pergi ke tkp yang natabennya
tempatnya masih labil. Yah itu bener, tapi itu untuk team rescu, gw mah masih cupu, gak bisa dimasukin ke dalam bagian
tim rescu, ini mah dagelan temen gw –
alih
– alih mencari korban, yang ada kita disana menjadi korban berikutnya :v.
Kang ading (komanan di
posko ini) aku di tempatkan di bagian logistik untuk hari pertama dan untuk
selanjutnya beralih ke bagian dapur umum.
Walau kita gak ke dalam
tim rescu, tapi tim ini juga gak
kalah pentingnya. Bila di tim rescu
sasaran atau targetnya adalah korban yang hidup atau yang sudah mati yang harus
di temukan, maka kita adalah sasarannya kepada orang – orang yang menjadi
korban yang masih hidup. Dan tugas kita adalah memastikan dia dalam kondisi baik
– baik saja, dengan cara yang ada di masing
- masing tim selain tim rescu.
Pertama tim logistik –
tim ini tugasnya simple , tapi berat . kenapa gw bilang simple, ya karena
tugasnya menerima sumbangan baik itu dana dan barang , dan memastikannya dapat
sampai ke korban secara langsung. Gw bilang berat karena barang yang di
salurkan itu ada banyak , beras ber ton – ton, sandang, pangan , papan,
semuanya banyak banget. Dan lokasinya yang relatif jauh menambah .
***kelogistikan***
Yang dapet gw pelajarin
dari tim logistik ini ada banyak. Pertama , ternyata ada banyak orang baik di
negri ini, mereka datang berbondong – bondong menyalurkan bantuan mereka. Apapun
yang mereka punya dan merasa dibutuhkan di sini ya mereka kirimkan. Ada yang
memakai kendaraan pribadi kaya mobil dan truk, bahkan ada pula yang make motor
buat ngirmin barangnya. Ada pula tim seprter yang ikutan nyumbang, jumlah (kuantitas)
yang mereka sumbangkan sama kayaknya sama dengan jumlah yang mengantarkan
barang ini. mereka naik motor, konvoi pula.
Sah – sah saja sih
menurut gw kalo ada yang ngirimin bantuan sampai ke loksi bencana, tapi dengan
cara konvoi mungkin kurang tepat. Ini bukan tempat wisata, kalau mau liburan ya
jangan disini tempatnya, paradigma baru masyarakat emang seperti itu,
pergi ke tempat yang lagi meanstream, ambil gambar, pamerin di medsos, dengan
lagaknya bilang, ini gw, gw bisa loh ke sini. Lebih bijak lagi kalau
yang ikut ke tempat hanya beberapa orang saja, selain di sini bukan tempat
wisata, banyaknya kendaraan di lokasi akan menyulitkan tim rescu ataupun tim –
tim lain dalam masalah mobilitas. Beruntung di tempat ini
masih ada jalan yang manusiawi, coba kalau tempatnya terpencil, jalan rusak,
dan banyak yang datang ke tempat bencana.
Gw sempet melihat
rombongan pejabat yang datang seenak jidat mereka sendiri datang membawa
seantero pasukan. Gw bukan bicara tentang sebuah kiasan, tapi gw bicara tentang
seorang pejabat yang datang ke lokasi bencana. Gw apresiasi deh rasa
kemanusiaan yang mereka punya dan mau datang ke lokasi, gak banyak juga pejabat
yang mau datang ke lokasi bencana. Tapi gw kasih catatan penting nih buat yang
seorang pejabat dan datang ke lokasi bencana.
Pertama dan yang paling
penting, jangan bawa banyak pasukan. Meskipun di protokoler tertulis wajib
membawa pasukan kaya polisi buat mensterilkan jalan tapi itu gak berlaku buat
di tempat bencana. Boleh bawa pasukan pembersih jalan, tapi cuman dari istana
elu ke jalan raya posko, bukan sampe di lokasi bencana. Coba bayangin gimana
rasanya seorang relawan yang di usir disuruh minggir karena ada orang penting
lewat ? dinama rasa kemanusiaan kalian wahai para pejabat ? datang ke tempat
bencana berlogikakan rasa kemanusiaan tapi gak ngerti apa itu rasa kemanusiaan.
***Kedapur Umuman***
Sesuai dengan namanya,
dapur umur adalah tempat kita membuat susutu yang tadinya tidak layk untuk
dimakn dan tidak memiliki citarasa serta tidak memiliki nilai gizi berubah
menjadi sesuatu yang lezat.
Sama halnya dengan di
logistik, di dapur umum gw nemuin hal baru yang bisa dijadikan pedoman hidup
gw, lebaynya gw hhaha, dan gw juga nemu hal unik di tempat ini.
Bukan satu , dua,
ataupun puluhan porsi yang kita buat, di dapur umum kita membuat ratusan hingga
ribuan menu yang harus sudah siap dalam beberapa jam saja. Manusia biasa
mungkin gak akan bisa buat apa – apa, selain beli dari toko makanan, itupun
menunya gak sesuai dengan apa yang kita mau.
Coba elu bayangin bro
gimana caranya masak nasi yang sebegitu banyaknya ? istilah yang dipakai oleh
kang ading adalah – teknik adang siram. Namanya keren banget coy.. teknik ini
gak repot kaya teknik yang ibi – ibu di desa gw pas buat nasi. Caranya simple
sih, cukup kita panaskan air panas, kedua kita masukan beras ke panci kukus. Begitu
kering berasnya, siram dengan air panas . dan
taraaa.... mateng coooy nasinya. Beda banget dengan teknik yang gw tau,
harus menanak nasi, dan meng “alubi” nasinya . itupun memakai dua tempat,
sedangkan teknik adang siram hanya membutuhkan satu tempat saja.
***Unik***
Keunikan gw temui
ketika berada di DU (singkatan dari Dapur Umum) ini. ada seorang nenek – nenek yang
punya punya perawakannya beda banget dengan usianya. Usianya mungkin 60-an,
intinya mah beliau udah punya cucu, tapi mukanya kaya ibu – ibu.
Ternyata rahasianya
adalah beliau setiap minggu rajin berolah raga. Empat kali dalam seminggu.
***Penutup***
Untuk membantu sesama,
kita gak perlu berandai – andai sesuatu yang gak mungkin bisa terjadi. Yang perlu
kita lakukan adalah menjadi diri sendiri untuk membantu sesama.
Beruntung di tahun ini
gw bisa jadi relawan bencana alam, yah walaupun tugas gw gak seberat tim rescu,tapi di sini gw banyak belajar
banyak hal. Semoga kita bis bisa bertemu kembali dengan tim relawan – relawan berikiutnya
tapi bukan dalam keadaan bencana.
Kelanjutan kita dalam
keluarga relawan masih berlanjut hingga sekarang, tapi komunikasi kita masih
terbatas. Dan bersyukur masih ada WA, jadi bisa tukar – tukar info atau sebatas
menanyakan kabar.
dokumentasi dari team




Komentar