e-ktp dan ibu-ibu #OneShootOneStory
nb: Dokumentasi menyusul.
Cirebon, Menjadi kota tujuan
selanjutnya setelah kita para ranger telah selesai melaksanakan misi di Jakarta
yang penuh dengan kepenatan. Eits… bukan para ranger yang turun di sini, tapi
hanya gw saja. Ya karena gw pengen pulang dan ada urusan yang harus gw urus di
sini.
Sampai di stasiun prujakan, gw pun
pamitan dengan pra ranger yang sudah setengah sadar karena kelelahan. Beruntung
gw bisa menjaga stamina dari stasiun pasar senen ke stasiun prujakan dan bisa
gak tidur. Bisa berabe dah pokoknya kalo gw ketiduran. Kereta ini cepat, ya
cepat juga deh berhentinya. Hanya berkisar 5 menit dan kereta ini sudah
berangkat lagi. Kalo aja gw ngelinur gitu pasti udah bablas, karena gak ada
pemberhentian lagi selain di statiun prujakan ini.
Turun dengan selamat gw melangkah
melintasi gerbong demi gerbong. Ternyata gk Cuma gw yang turun di sini, ada
banyak yang turun. Tapi bukan untuk tujuan Cirebon, kebanyakan mereka yang
turun adalah orang yang gak kuat menahan nikotin. Mungkin bisa sakau kalau gak
ngisep rokok. Sejak pemberlakuan dilarang merokok di dalam gerbong dan di antar
gerbong, para perokok memang menjadi resah. Ketauan merokok di dalam kereta
bisa kena sanksi. Sanksinya gak maen-maen, apalagi kalau di turunin secara
paksa di stasiun berikutnya.
Lain halnya dengan para perokok
pasif, merekalah yang paling bahagia karena sudah tidak terkontaminasi dengan
nikotin secara tidak langsung. Ada benarnya juga sih adanya aturan seperti ini,
karena didalam kereta sudah ber AC. Dengan alasan akan merusak AC maka
diberlakukan aturan dilarang merokok. Terlihat logis, tapi ya gak masalah, toh gak
ada yang protes.
Lanjut
lagi kenapa gw harus turun di Cirebon dan gak lanjut ke Yogyakarta, adalah
karena gw harus mengurus e-ktp yang sampai dengan sekarang gw belum buat. Bukan,
gw bukan warga yang menentang adanya e-ktp, juga bukan warga yang tidak taat
aturan, atau warga pemberontak. Simplenya karena masalah domisili, sebelumnya
status gw adalah mahasiswa yang kuliah di luar kota, ciee. Dan pengurusan e-ktp
itu kan harus di domisili asal. Jadi harus di Cirebon ngusrnya. Alhasil karena
gw Cuma waktu libur yang hanya sebentar, jadi sampe sekarng gw gak bikin-bikin.
So, itulah sejuta argument gw kenapa sampe sekarang gw belum bikin, dan ini
juga alasan kenapa harus mampir ke Cirebon.
Baiklah
sampailah pada hari dimana gw harus pergi ke desa mengurus surat pengantar
untuk membuat e-ktp ini. Dalam ati, prosedur ini adalah prosedur yang paling
ngebuat gw “enek” ngejalaninnya. Beberapa tahun sebelumnya ketika gw buat SCKC
atau perpanjang KTP praktek KKN masih buanyak buanget di sini. Yah gak banyak
sih, tapi rishi juga kan kalau dari rt ke rw ke desa ke kecamatan sampai ke
polres ada uang rokoknya. Negri dimana sudah ada jaringan 4G tapi masih tetep
ada praktek seperti jaman colonial belanda. oh shit dah, dalam hati, ketika gw
sampai ke balai desa.
Dan
sepertinya jaringan 4G sudah sampai di desa ini, terlihat tidak ada uang rokok
lagi. Kaget aja liatnya, antara bahagia dan syok. Mungkin jaringan 4G udah
mengubah mainset dari perangkat desanya. Dibalai desa ini gw hanya membuat
surat pengantar dari desa doang sih, bahwa gw adalah warga sini dan mau buat e –
ktp.
Sebelum
gw dibuatin surat pengantar, gw diceramahin dulu nih sama bapak yang piket di
depan ini. Ya dibilang aja ktp yang gw pegang itu udah gak berlaku, (you don’t
say lah pokoknya). Tapi gw senyumin aja, dan ngeles dengan sebagus-bagusnya,
bilang aja gak sempet buat. Kurang lebih 5 menit gw dengertin ceramahnya
bapak-bapak ini. Tapi okeh lah taka pa, mungkin itu adalah wejangan buat gw
yang gak pernah mampir ke balai desa, atau bantu bersih-bersih desa sebagai
anggota karang taruna. Terima kasih banyak bapak-bapak piket.
Tujuan
selanjutnya setelah gw membuat surat pengantar dari desa, selanjutnya adalah ke
kecamatan. Di tempat ini gw akan di simpan data-datanya, sebut saja data sidik
jadi, foto, retina, dan tanda tangan. Namanya juga e – ktp, jadi semuanya harus
berbasis elektronik dan terimpan ke dalam database. Btw, yang belum tau konsep
e-ktp gw ceritain deh dengan simple. Jadi pemerintah akan menyimpan data biometric
seperti sidik jadi, retina, foto dan tanda tangan. Data tersebut disimpan
secara terpusat, kemudian akan dibuatkan ktp yang berisikan data diri tersebut.
Nah, sebagian orang yang sudah melakukan rakaman ada yang melakukannya dua
kali, dengan alasan belum mendapatkan e-ktp. Nah akan terjadi masalah kalau
misalkan ada data yang ganda. Karena penggandaan database akan mengacaukan system.
Nah, enaknya e-ktp itu kalau bisa memisahkan batas territorial loh. Misal kita
ada di wilayah b, tapi yang kita punya adalah ktp a. karena sistemnya sudah
menggunakan database terpusat jadi kita hanya ke desa dan bilang kita ada di
wilayah b. nanti pihak desa b akan mengakses database terpusat tersebut dan
memindahkan lokasi orang tersebut yang tadinya di a sekarang pindah ke b. kok
jadi beribet yah, yah begitulah e-ktp.
Balik
ke pembuatan e –ktp di kecamatan, disini ternayat belum ada sinyal 4G, masih
EDGE alias masih ada proses kkn. Jelas-jelas gw baca di aturan kalau proses
pembuatan e-ktp itu gratis-tis-tis. Eh masih aja ada perangkat desa yang nakal
yang mengumut uang administrasi. Gak Cuma sekali ini aja sih, sebelumnya gw
juga pernah buat SKCK, hanya minta cap, cap, cap. Eh disuruh bayar
administrasi, dan yang buat gw bingung kok administrasinya seikhlasnya, ikhlas dari
hongkong.
Gw ditarikin
uang pendaftaran, gak banyak seperti biasa. Hanya 15 ribu rupiah saja, hmmm,
sekarang coba kita pelajari. Gw pernah baca koran kalau jumlah penduduk Indonesia
yang sudah membuat e-ktp baru 22 jt penduduk. Menurut data demografi, jumlah
total penduduk Indonesia itu sekirae 255 juta jiwa. Kita ambil saja sample
bahwa penduduk di desa ini hanya 0,1%,
kira-kira ada ada 25 jt. Hmm… mungkin masih terlalu banyak. Bagaimana kalau
0,1% dari hasil tadi. Tapi sepertinya masih terlalu banyak. Okeh lah gw ambil
aja kira-kira 100 orang. Jadi kalau 15k dikali 100 itu ada 1,5 jt rupiah. Hmmm….
Lumayan sih buat beli bakso.
Gw gak
mempermasalahkan berapa banyak dari uang pendaftarannya, hanya saja moral dari
bangsa ini dikemanakan. Bicara soal moral, menurt gw manusia yang paling gak
bermoral adalah para koruptor. Yah sudah lah, mungkin lain kali gw bahas soal
koruptor yang paling gw gak suka ini di chapter khusus.
Balik
lagi deh ke pembuatan e-ktp. Proses pendaftaran sudah selesai dan, gw
memutuskan untuk balik lagi ke rumah karena katanya nanti dapet panggilan siang
agak kesore-sorean. Hmm…. Ini adalah kamus baru yang baru gw temuin. Istilah “siang
agak kesore-sorean”, mungkin di kecamatan ini ada banyak istilah yang baru yang
harus gw pelarain, yah contohnya saja ini. Dalam pikiran gw, waktu siang itu
mempunyai rentan antara jam 9 lebih sampai jam 3 kurang. Yah seengaknya itu
adalah siang. Terus kesore-sorean, sore itu kalau menurut gw itu antara jam 3
lebih sampai jam 5. Jadi jam berapakah “siang agak kesore-sorean ?”. Males
mikir gw Tanya aja nenek gw, kebetulan gw ngurus administrasi kek gini
ditemenin sama nenek gw. Ternyata jam 3, hooooo…… sepertinya ada banyak nama waktu
yang gak gw ketahuin.
Sampai
di rumah yang gw lakuin adalah tidur, mandi, cus lagi deh. Sampai di kecamatan
pukul yang dituju, pukul siang kesore-sorean, dan apa yang gw dapet ? shit dah.
Ternyata gak bisa hari ini, karena ada banyak antrian. Dan kecamatan harus
tutup pukul 4. Dari sini gw dapat pelajaran lagi. “jangan percaya omongan
orang, terutama yang jelas-jelas ngelakuin praktek kkn”.
Dan sini
gw beruntung dateng ke kecamatan bareng nenek gw lagi. Bergitu bapak tadi
bilang gak bisa hari ini, mulut nenek gw komat-kamit hamper setengah jam. Antara
kesel karena gak bisa ngurus secepetnya proses pembuatan e-ktp sampai nahan
ketawa ngeliat nenek gw ngerocos komat-kamit nyumpain bapak tadi. Yah sudah
lah, untungnya gw udah ijin ke pak bos.
Esok harinya,
pagi-pagi banget dah gw cus ke kecamatan. Mungkin kesalahan gw juga kemaren
siang-siang dateng ke kecamatan, gw percaya bapak yang ada di pendaftaran tadi
baik banget. Saking baiknya mungkin mendahulukan orang-orang yang membayar
lebih mahal. Yah itu sih pikir gw. Tapi karena masih pagi, so gak ada yang
didahulukan dan gak ada yang mau nyerobot.
Hipotesis
gw ternyata bener, kantor masih kosong dan hanya ada beberapa orang saja yang
sudah mengantri, kalo diitung hanya ada 3 orang yang sedang duduk mengantri. Ada
ibu-ibu, ada bapak-bapak bertato (terlihat seperti preman, tapi baik ternyata).
Kejadian
seru dateng ketika ada bapak-bapak berpakean dinas nyerobot masuk ke ruang
pemotretan. Ibu-ibu dan nenek gw secara kompak ngomongin bapak-bapak tadi yang
nyerobot. Tapa basa basi ibu-ibu ini dengan enaknya bilang kalau bapak tadi itu
adalah orang pejabat yang nyerobot yang kalau gak diladein bisa-bisa kantor ini
bisa di bongkar. Gw yakin seyakinnya kalau ibu ini ngomong dengan volume yang
sangat tinggi. Dan apa yang bapak yang nyerobot tadi lakukan, eh dia keluar. Sepertinya
ibu-ibu ini punya kekuatan magis yang bisa mengusir para setan yang ada
dilingkungan dinas. Aplus daaah buat ibu-ibu.
***

Komentar