Kebodohan yang Terorganisir ?

Kali ini mungkin gw gak nulis #oneshootonestorry, agak sedikit berbeda. kali ini gw menulis tentang kegelisahan hati gw aja. bukan kegalauan, tapi bisa dibilang kegalauan juga. 

Hari ini gw sadar, perbedaan antara manusia modern dan manusia purba adalah ketergantungan pada teknologi. Ketergantungan tersebut terlihat jelas di tahun 2016 ini, hm, coba deh kita lihat berapa lama waktu yang kalian habiskan dengan smartphone. Seakan menjadi bagian dari hidup, justu menjadi parasit. Parasite yang merusak system budaya sebagai manusia.
sumber : http://blog.openconnection.com/

Pada dasarnya manusia adalah mahluk yang mempunyai banyak anugrah. Mereka menggunakan hati mereka untuk menilai, mereka menolong sesama tanpa pamrih, mereka saling berkomunikasi menciptakan kehangatan. Mungkin defisini manusia yang tadi gw sebutin diatas adalah definisi manusia ere 20.an dimana belum adanya virus atau parasite smartphone. Jika pun ada smartphone, hanya sebatas alat komunikasi yang menghubungkan dua orang manusia yang terpisahkan oleh jarak.
Mungkin aneh, entah hanya gw saja yang merindukan manusia era 2000.an dimana elu bisa sepuasnya bermain di taman, elu bisa ngobrol tertawa dengan lepas, bisa saling adu jotos ketika bermain dengan temen-temen elu. Setidaknya manusia era itu adalah manusia yang memanusiakan manusia yang lain.

Kadar kemanusiaan manusia di era smartphone jumlahnya lebih banyak dari pada jumlah penduduk di bumi ini banyak yang terkikis, sebab oleh adanya kehadiran atau memang manusialah yang tidak bisa memanfaatkan smartphone tersebut dengan baik. Kalau mungkin kalian gak sependapat dengan paparan gw dibawah ini nanti, atau elu bisa bilang gw orang munafik yang gak bisa menghadapi kemajuan teknologi, atau mungkin elu bisa bilang gw orang yang bodoh karena gak mau maenan smartphone. It’s okeh.  Lol

Jadi, gw pikir manusia di era sekarang itu:
Pertama, suka dengan kesunyian. Kok bisa, okeh, ambil sample, pernah naik kereka, naik mobil umum, naik bis, atau naik apapun itu dimana elu bisa menemukan orang-orang yang melakukan perjalanan yang sama. Mereka lebih suka menggunakan headset mereka, dan menutup telinga mereka dengan itu. Apa yang mereka dengar ? alunan lagu yang membuat mereka berimaginasi bahwa ini adalah surga, ini adalah kenyamanan, ini adalah suatu tempat dimana gak ada seorangpun kecuali elu. Padahal, tepat didepan-samping-belakang ada manusia yang satu species dengan elu. Lantas kenapa gak tegur sapa, memang tidak saling kenal, lalu kenapa tidak coba berkenalan ? bukankah itu adalah kesempatan kita untuk saling mengenal satu sama lain. Jadi, headset itu adalah sebuah sebuah solusi ataukah sebuah alat untuk melarikan diri manusia satu species dengan elu.

Kedua, momen adalah sebuah kemunafikan. Seenggaknya itu sih yang gw pikirin. Smartphone membuat orang saling bertukar moment, saling membagikan dengan yang lain, seakan ini adalah kebahagian yang elu damba-dambakan. Kenapa gw bilang sebuah kemunafikan. Pertama, foto yang mengabadikan moment adalah sebuah proyeksi dari sebuah kejadian dalam satu detik. Lalu detik berikutnya apa yang akan elu lakuin. Jawaban gw adalah hanya duduk diam, melihat sebuah alat dengan lebar rata 4,5 inch. Gak lain dan gak bukan yang dilakuin adalah focus pada dunia yang tidak ada di depan mata kita. Melupakan dunia realita dan beralih ke dunia maya. Sebuah kemunafikan yang terorganisir sih menurut gw. Kok bisa, karena orang yang ada di foto tersebut mungkin akan melakukan hal yang sama. Jadi, apakah itu bukan kemunafikan yang terorganisir. Ah, sepertinya gw kelewatan menggunakan istilah. Bodo amat lah.

Ketiga, tidak memanusiakan manusia adalah hal yang biasa. Saling beradu mulut, saling memberikan pendapat, dan saling menghujat satu sama lain. Hmmm… mungkin bisa kita liat di fackbook, atau twutshit. Kadang orang yang biasa-biasa saja, akan menjadi garang ketika berbicara di dunia maya. Saling mengkafirkan, saling menistakan, ataupun saling memojokan. Hanya bisa tertawa lepas, atas kemenangan yang diterima ketika orang yang telah di tindas sudah kalah. Manusia mana yang tega melakukan kegiatan seperti itu dengan menusia yang lain. Yah mungkin hanya manusia yang tidak waras. Lupa kalau dirinya adalah manusia, yang punya berbagai macam pendapat.

Keempat, kebodohan yang dipeliharan akan menghasilkan kebodohan baru yang susah untuk dihilangkan. kebodohan ini adalah stigma di masyarakat smartphone, bahwa ada sebuah keharusan dan kemutlakan untuk harus ikut serta dalam koloni mereka. Hmm…. Bingung yah dengan kata-kata gw. Jadi gini simplenya, elu bakal dibilang kuno kalau gak punya facebook, atau elu dibilang kuno kalau elu gak punya smartphone. Padahal orang yang bilang seperti itu, menggunakan smartphone hanya untuk foto, fackbook, tuitshit, atau apalah itu. You know smart ? I think’s that is not smart.

Gw bukan orang yang menolak sebuah kemajuan, gw juga orang yang gak punya smartphone. Toh gw sendiri punya, yah walau gak banyak. Hanya saja, entah dari hati gw yang paling dalam, kita seakan terjebak dengan ke canggihan sebuah alat yang seharusnya membantu kita, justru kita hanya berkutat dalam kebohohan itu.

Sedikit gw bercerita bagaimana bahagianya gw ketika gw bilang hp gw ilang (padahal gw sengaja menyembungikan hp gw). Gw mau mencoba hidup beberapa minggu tanpa menggunakan smartphone. Apakah itu kuno apakah itu sebuah keharusan yang harus dilakukan, jika tidak melakukannya gw akan menjadi orang yang paling menyesal. Let’s see, sampai hari ke tiga ini. Gw merasa bahwa gw terbebas. You know what kan yang gw ulas diatas.

So,. Mari kita lihat. 

Komentar

Postingan Populer